Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi: Sekarat

Aku kembali tak berbentuk Saat keadaan meminta kupeluk Aku kembali terpuruk Saat kebahagiaan enggan masuk Siang seperti malam Malam seperti siang Hanya gelap yang menyelimuti Hanya sepi teman sejati Atas album lalu yang selalu dibuka, tanpa menghiraukan aku di depan mata Atas pandangan yang selalu mengadah ke langit, tanpa mau menapaki bumi Atas segala egoisitas, tanpa mau memahami perasaan orang lain Atas segala intonasi keras, tanpa peduli ada sayatan pada selaput hati orang lain Aku dan kamu seolah selamat Padahal aku sedang sekarat Aku (tidak) baik-baik saja Tapi aku harus baik-baik saja. Tasikmalaya, 20 September 2018 -Gadis Pendosa Ulung

Tanpa Judul Part II

"Aku sayang kamu, tapi aku tak ingin bersedih. Entah mungkin aku yang terlalu perasa, atau memang kamu yang membuat aku sedih." Samar-samar suaranya terdengar mendayu dihempas angin malam. Hanya ada mereka berdua di kolong langit malam yang indah itu. Bulan yang teramat suci, menyadarkan ia yang sedang bersedih. Entah bermulai darimana, namun yang ia rasakan tak pernah ada kedamaian pada dirinya. Selalu saja sesak yang dirasa. Meski senyum lebar menghiasi bibirnya. Kini ia tersadar bahwa semua ini memang hanya titipan Tuhan. Orang-orang yang ia miliki dan cintai, harta, tahta, ilmu dan kebahagiaan adalah titipan-Nya. Ia hanya perlu untuk menjaga dan merawatnya. Agar tidak lepas. Namun memang tanpa diundang, yang datang akan datang, dan yang hilang akan tetap menghilang. Tak ada yang mampu memaksakannya. Tak ada yang tahu kedepannya seperti apa. Entah itu satu tahun ke depan, bulan depan, besok, jam ataupun sedetik kemudian. Ia hanya mampu tersenyum pada langit. P...

Review Film “212 The Power of Love”

Review Film “212 The Power of Love”  Sumber Foto: Google.com Judul : 212 The Power of Love  Tahun : Mei 2018  Produser : Helvy Tiana Rosa, Jastis Arimba  Sutradara : Jastis Arimba  Penulis Naskah : Ali Eunoia, Jastis Arimba  Produksi : Warna Pictures  Genre : Drama  Cast : Fauzi Baadila, Humaidi Abas, Adhin Abdul Hakim, Hamas Syahid, Meyda Sefira, Asma Nadia, Roni Dozer  Durasi : 110 Menit  Film ini menceritakan tentang Rahmat, jurnalis andalan Majalah Republik yang menulis dengan ideologi dan prinsip hidupnya. Tak disangka, mahasiswa lulusan terbaik Harvard jurusan Jurnalistik adalah anak dari Ki Zainal. Tokoh agama yang ada di Ciamis, Jawa Barat. Saat mewawancarai salah satu pejabat, Rahmat mendapat kabar...

Info Kuliner Tasikmalaya: Tutug Oncom (TO) Benhil Rajanya TO Tasikmalaya

Nasi TO Benhil Tasikmalaya di Jalan Dadaha dengan harga Rp. 7.000,- dengan 2 gorengan. (20 Oktober 2017. Sumber Foto: FajKus) Tutug Oncom atau yang lebih dikenal TO menjadi ciri khas kuliner sunda. Bagi kalian pecinta kuliner sunda, pasti sudah tidak asing lagi dengan TO. Di kota Santri Tasikmalaya, dapat dengan mudah menemukan warung nasi TO. Berbagai sajian dengan citra rasa yang berbeda-beda pada setiap warung nasi TO di Tasikmalaya. TO menjadi salah satu pilihan santapan sarapan, makan siang bahkan makan malam. Selain harganya yang bersahabat, campuran nasi dengan oncom menjadi salah satu alternative apabila merasa bosan mengkonsumsi nasi putih. Tak lengkap jika nasi TO tidak dipadukan dengan sambal. Setiap warung nasi TO, memiliki khas dari sambalnya. Ada yang memakai sambal terasi, sambal ijo sampai sambal tomat. Gorengan juga menjadi salah satu pelengkap menyantap TO, tentunya dengan gorengan (bala-bala, gehu, tempe terigu) yang masih hangat. Persaingan usaha n...

Puisi: Kamu

Tasikmalaya, 15 September 2016 -Siska Fajarrany- R ona hitam mengkabuti waktu I ntan meredup tertindih bebatuan Z ona kenyamanan bagai sebuah hantaman K ala dirinya meredup nan tetap bercahaya I tulah yang membuatnya indah dideskripsikan E ntah sampai kapan K abut itu mengurung A dakah harapan lain??? R upanya tak ada waktu yang percuma I ni adalah garis kehidupan A ntara perjalanan dan perjuangan N iscaya tak ada kesia-siaan R asa dan asa menyatu I mpian terikrar suci N anti, bila waktu mendekapmu A kan ada kemenangan sejati L umpuh sudah semua rasa perih D alam setiap tetesan keringatmu I nilah dirimu dengan cahayamu……… Teruntuk kamu, setiap abjad dari barisan ini Masih ada harapan menyapamu Berlarilah hati-hati dengan hati Tengoklah ke belakang Ada senyuman dan doaku mengiri KAMU.

Puisi: Menunda atau Tertunda

-Siska Fajarrany- Dia terlalu lemah untuk melepaskan Tetap bertahan meski nampak semu Sebagai pajangan hati kala sepi Bahkan penghibur kala luka menghampiri Dai terlalu takut untuk menjauh Takut kehilangan harapan indah Tak mau semuanya lenyap tak berbekas Tersapu tak berbangkai tak membekas Dia terlalu cinta untuk menghilang Menatap meski tak lagi ditatap dalam kenang Teguh bertahan merindu titik temu Menyemogakan kepastian semu Apakah cinta bisa dijadikan alasan? Alasan untuk tetap bertahan dan berjuang Dia masih tetap menunggu rembulan menjulang Berulang kali menunda atau tertunda untuk pulang

Puisi: Katanya

'KATANYA' Malam ini bumi mengamuk Menyaksikan tunas bangsa terpuruk Mengikis harapan tanpa kepastian Merasuk sukma penuh dusta Virus menghantui setiap sudut Udara dicemari kedustaan Mereka berteriak dalam diam Mulutnya disumpal penuh ketakutan Hipokrit tak berbendung Mengarungi semangkuk dusta Diteguk tak minta ampun Membisu sel-sel tak berilmu Topeng dan kedok Permanen tak mau mencair Picik bersetubuh erat Racun-racun bagaikan coklat 'Katanya' agar berwarna 'Katanya agar banyak kepeduliaan 'Katanya' agar banyak perbaikan 'Katanya oh katanya.... Tasikmalaya, 17 Juni 2016 20:08 Asjap Siska Fajarrany Dipost pertama kali di akun offical line Mahasiswa Indonesia